13 Oknum DPRD Sebentar Lagi Tersangka

  • Whatsapp

Kajari: Tunggu Saja Tanggal Mainnya

PANGKALPINANG – Jantung 13 oknum anggota DPRD Kota Pangkalpinang periode 2014-2019 mulai berdebar kencang. Pasalnya, Tim Penyidik Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Negeri (Tipidkor Kejari) Kota Pangkalpinang dalam waktu dekat akan mengumumkan penetapan tersangka dalam perkara dugaan tipikor Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) Fiktif DPRD Kota Pangkalpinang.

Sebanyak 13 oknum dewan terhormat tersebut bakal dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tua Tunu Pangkalpinang. Demikian penegasan ini disampaikan oleh Kepala Kejari (Kajari) Pangkalpinang, RM Ari Prioagung ditemui Rakyat Pos usai Sertijab Kasi Intel Kejari Pangkalpinang, Kamis. “Masih penyidikan ya, ya kita tunggu ajalah sebentar lagi. Gak lama lagi kan, kalau sudah selesai kita akan limpahkan ke pengadilan,” beber Kajari.

Untuk saat ini, dirinya belum mau membocorkan nama-nama 13 oknum anggota DPRD Kota Pangkalpinang yang bakal dijadikan tersangka dalam kasus itu. “Belum, kita belum menentukan siapa lagi yang masuk dulu. Nanti, kita tunggu saja tanggal mainnya, sebentar lagi kalau sudah selesai ya,” janjinya.

RM Ari Prioagung yang akrab disapa Ari telah menargetkan kepada Kasi Pidsus untuk menyidik perkara tersebut hingga menetapkan tersangkanya. “Untuk berapa lama, ya nanti saya tanyakan ke Kasi Pidsus sanggupnya berapa lama. Targetnya, tahun ini seharusnya sudah selesai,” ungkapnya.

Disinggung lebih jauh, berapa banyak oknum anggota dewan yang akan diseret sebagai tersangka, Kajari lagi-lagi menyatakan, dirinya masih harus menunggu dulu laporan dari Kasi Pidsus terkait hal itu. “Oh iya (Sudah ada tersangka-red). Belum tahu ya, nanti Kasi Pidsus yang menentukan. Pokoknya, nanti tunggu Kasi Pidsus melaporkan kepada saya ya,” timpalnya.

Sekarang ini, diakuinya proses pemeriksaan terhadap 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang periode 2014-2019 tersebut masih bergulir.”Masih, masih jalan. Hari ini (Kamis) kebetulan ada sertijab, jadi untuk sementara ini pemeriksaan distop dulu dan dilanjutkan besok,” katanya.

Lebih lanjut dia menegaskan, oknum dewan yang sempat menunda dan belum menjalani pemeriksaan, tetap akan dilakukan pemeriksaan ulang. “Kalau panggilan sudah gak ada, tapi mungkin penundaan-penundaan yang dilakukan dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis ini. Tapi, teknisnya ada di Kasi Pidsus,” tukasnya.

Keterlibatan 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang dan Pengguna Anggaran (PA) SPPD tersebut, diduga telah menikmati uang yang merugikan negara mencapai Rp158 juta.

Dalam berita sebelumnya, enam dari 13 oknum anggota DPRD Kota Pangkalpinang menjalani pemeriksaan intensif di ruang pemeriksaan Kejari Pangkalpinang, Senin (2/9/2018 Mereka yang diperiksa, diantaranya Amir Rahman, Hj Murti Mardiana, Sadiri, Zainuri, Rano dan Andi.

“Yang hadir hanya lima orang, sedangkan Zainuri ada keperluan keluarga. Jadi, dia minta penundaan,” beber Kepala Kejari (Kajari) Pangkalpinang, RM Ari Prioagung diwakili Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel), Leo Jimmy ditemui Rakyat Pos saat menuju kendaraan pribadinya, Senin sore.

Keterlibatan 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang dan Pengguna Anggaran (PA) SPPD tersebut, diduga telah menikmati uang yang merugikan negara mencapai Rp158 juta.

“Ya, baru hari ini lah buat penyidikan yang ini ya. Penyidikan inikan baru dimulai lagi. Dia, anggota dewan yang SPPD itu baru enam yang dipanggil ya, tapi lima yang diperiksa karena yang satunya mengajukan penundaan dulu,” ungkapnya.

Kasi Intel menegaskan, satu dari enam oknum anggota DPRD Pangkalpinang yang diperiksa kemarin tetap akan menjalani pemeriksaan lagi, meskipun sempat ditunda. “Ya, tetap dong. Nanti, kita tanya penyidik kapan mereka akan dipanggil lagi,” tegasnya.

Hari ini (Selasa), Leo Jimmy belum mengetahui akankah dilakukan pemeriksaan terhadap oknum anggota DPRD Pangkalpinang lainnya yang belum diperiksa dalam kasus ini. “Kurang tahu besok kegiatannya apa, kita belum nanya ya. Waduh, saya kurang tahu, saya belum nanya ke penyidiknya (jumlah pertanyaan yang diajukan kepada anggota dewan dalam pemeriksaan itu),” ujarnya.

Dia menargetkan tak terlalu lama pemeriksaan terhadap 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang dalam kasus dugaan korupsi yang menumbalkan Bendahara Sekretariat Dewan (Setwan), Budik Wahyudi sebagai tersangka dan telah menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Tua Tunu Pangkalpinang.

“Saya rasa gak lama ya. Selagi penyidik yang melakukan pemeriksaan mengatakan cukup, ya udah cukup dan saya rasa penyidikan kita buat mengumpulkan alat bukti secukupnya ya. Sebanyak-banyaklah. Targetnya ya secepatnya ya. Sampai selesai ya,” tukasnya.

Pantauan Rakyat Pos, satu persatu oknum anggota DPRD Pangkalpinang keluar dari Kejari Pangkalpinang usai menjalani pemeriksaan sekitar pukul 15.12 WIB. Oknum wakil rakyat yang menggunakan pakaian batik dan bercelana katun ini langsung menuju ke mobil pribadinya Innova berwarna putih BN 1423 PB.

Selanjutnya sekitar pukul 18.16 WIB, keluar lagi oknum anggota DPRD Pangkalpinang, Andi. Ia mengaku keletihan usai menjalani pemeriksaan sejak pagi sekitar pukul 10.00 WIB hingga menjelang waktu shalat Magrib.

“Ku la leteh dari jam 10 tadi (Saya sudah letih dari jam 10 tadi. Dek bulek dek (Tidak bohong tidak), ke bu Murti bae ok (Ke bu Murti saja ya),” elak Andi saat akan diwawancarai awak media. Lagi-lagi, dia mengungkapkan sangat kecapean usai diperiksa. “Ku la leteh (Saya sudah letih), nek salat dulu (Mau shalat dulu),” timpalnya sembari menuju ke mobilnya Honda CRV warna putih BN 1012.

Tak lama Andi keluar, menyusul di belakangnya seorang wanita yang juga anggota DPRD Pangkalpinang kala itu, Hj Murti Mardiana. “Ku leteh, ku lom shalat aben (Saya letih, saya belum shalat),” elak Murti seraya bergegas menuju ke mobil Suzuki Ertiga warna abu-abu BN 1459 PG.

Selang hari berikutnya, pemeriksaan terhadap saksi-saksi masih terus dilakukan dan kali ini, Kamis (5/9), enam saksi yang dimintai keterangan dalam perkara tersebut.

“Hari ini, tim penyidik Kejari Pangkalpinang melanjutkan pemeriksaan saksi-saksi dalam penyidikan dugaan tipikor SPPD fiktif tahun anggaran 2017. Penyidik melakukan pemanggilan terhadap enam saksi yang mempunyai kaitan dengan kasus dugaan tipikor ini,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pangkalpinang, RM Ari Prioagung diwakili Kasi Intel, Leo Jimmi kepada sejumlah wartawan, Kamis sore.

Keenam orang yang diperiksa hari ini, yakni Michael Pratama, keluarga almarhum Yahya Muhammad, Marsyahbana, Ahmad Subari, Heri Paraniyanorpen dan Abang Hertza.

“Michael Pratama sudah hadir dan dimintai keterangan. Yahya Muhammad (almarhum) yang hadir adalah keluarganya, Marsyahbana dalam hal ini diwakili oleh istrinya yang menyerahkan surat keterangan dokter bahwa yang bersangkutan berhalangan untuk dimintai keterangan, Pak Ahmad Subari hadir pada hari ini juga. Selanjutnya Pak Heri Paraniyanorpen juga hadir dan Abang Hertza juga hadir,” bebernya.

Leo mengungkapkan, pemeriksaan terhadap anggota DPRD Pangkalpinang tersebut masih ada yang berlangsung dan ada yang sudah selesai. “Pemeriksaan ini, penyidik menggali informasi guna mencukupi alat bukti dalam penyidikan ini. Mereka dipanggil sebagai saksi, itu kita serahkan ke penyidik bagaimana penyidik menilai kecukupan alat bukti dan melihat siapa saja yang berpotensi menjadi tersangka,” ujarnya.

Lanjut Leo, proses penyidikan tersebut tak hanya terhenti di situ saja, guna menentukan penambahan tersangka baru. “Nanti, prosesnya masih ada lagi. Kalau dibilang panjang, gak panjang-panjang amatlah. Cuma, masih ada waktu yang harus dipenuhi, masih ada rangkaian-rangkaian pemeriksaan yang perlu dilakukan dan itu membutuhkan waktu juga,” timpalnya. “Penyidikan ini sebenarnya lanjutan dari penyidikan yang lama. Hanya meneruskan penyidikan yang lama aja kok,” sambungnya.

Sementara itu, Abang Hertza mengaku, dirinya tidak ikut dalam perjalanan dinas 13 anggota DPRD Pangkalpinang ini. “Apa yang dalam perjalan dinas tersebut, bahwa saya tidak melaksanakan kegiatan itu dan saya tidak mengambil apa yang bukan hak saya. Saya tidak ikut perjalanan dinas ini dan saya tidak mengambil yang bukan hak saya,” kata Abang Hertza usai pemeriksaan.

Pemeriksaan terhadap dirinya sekitar dua jam lebih hingga selesainya Salat Maghrib. “Abang diperiksa jam setengah 3, intinya mereka hanya minta keterangan,” tukasnya.

Sebelumnya, pada Selasa (4/9), anggota DPRD Pangkalpinang yang diperiksa, diantaranya Djubaidah, H. Jumdiyanto, Alfian, H. Abdul Gani dan Satrya Mardika. Pada Senin (3/9), enam dari 13 oknum anggota DPRD Kota Pangkalpinang menjalani pemeriksaan intensif di ruang pemeriksaan Kejari Pangkalpinang. Mereka yang diperiksa, diantaranya Amir Rahman, Hj Murti Mardiana, Sadiri, Zainuri, Rano dan Andi.

Keterlibatan 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang dan Pengguna Anggaran (PA) SPPD tersebut, diduga telah menikmati uang yang merugikan negara mencapai Rp158 juta.

Seperti diketahui, sebanyak 13 oknum anggota DPRD Kota Pangkalpinang diduga tersandung kasus SPPD fiktif. Baru Budik Wahyudi yang menjabat sebagai bendahara DPRD kala itu dijadikan sebagai tersangka, sementara para oknum anggota dewan belum satupun ditetapkan tersangka oleh penyidik kejaksaan.

Budik diketahui ikut ke Jakarta mendampingi kunjungan kerja para anggota dewan dengan SPPD tanggal 6, 7, dan 8 Februari 2017. Didapat kabar kunjungan kerja itu diduga fiktif dan negara dirugikan sebesar Rp158 juta.

Sebanyak 13 oknum anggota DPRD Pangkalpinang yang mengambil SPPD tersebut terdiri dari anggota Komisi I, II, dan III DPRD. Modusnya, ada anggota dewan yang tidak berangkat tetapi biaya SPPD dicairkan, dan ada yang berangkat tetapi tidak melakukan kunjungan kerja. (bis/6)

Related posts