11 Kapal Tenggelam di Basel Terancam

  • Whatsapp

Jadi Terumbu Karang, Nelayan Tolak Pengangkatan
Pihak Terkait Ngaku tidak Tahu

TOBOALI – Kekayaan bawah laut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sepertinya tengah diincar para pengusaha besi tua dan pemburu harta karun. Terbukti, setelah Kapal Perang Ashigara peninggalan penjajahan Jepang di Perairan Tanjung Ular, Muntok, Kabupaten Bangka Barat diangkat oleh perusahaan pengepul besi tua dari luar Babel. Kini, kekayaan bawah laut berupa kapal-kapal tenggelam di perairan Kabupaten Bangka Selatan, menjadi incaran selanjutnya.
Ironisnya lagi, dikabarkan sebanyak 11 situs kapal tenggelam di laut Bangka Selatan yang bakal diangkat dan dipotong-potong besinya oleh perusahaan tak bertanggungjawab. Menurut informasi, bahkan pengangkatan kapal tenggelam itu rencananya akan dilakukansecara sporadis oleh perusahaan yang pekerjanya menggunakan tenaga ahli dari asing atau WNA (warga negara asing).
Ketua Nelayan Batu Perahu, Toboali, Joni Zuhri menyatakan para nelayan menolak keras rencana pengangkatan kapal tenggelam di perairan Bangka Selatan tersebut. Ia membenarkan menurut informasi yang diterimanya, terdapat 11 titik kapal tenggelam yang rencananya akan diangkat oleh perusahaan itu.
Dikatakan pria yang biasa disapa Jon ini, pengangkatan kapal tersebut diduga telah mendapatkan izin dari pihak Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI (Dirjen Hubla Kemenhub). Ia menyesalkan kebijakan itu karena keberadaan kapal tenggelam yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun tersebut, telah menjadi terumbu karang yang merupakan tempat ikan bermain dan mencari makan.
“Terumbu karang adalah spot bagi nelayan untuk memancing dan menjaring ikan. Jika terumbu karang yang berasal dari kapal tenggelam ini akan diangkat, tentu kita tolak, alasannya apa, ini sama saja dengan menghancurkan mata pencarian nelayan. Informasi yang kita terima ada kapal tenggelam yang berjarak sekitar 4-5 mil dari Tanjung Labun sudah hilang. Ini tentu menimbulkan kerugian bagi nelayan,” ungkapnya kepada Rakyat Pos, Minggu (2/1/2017).
“Kapal yang tenggelam puluhan tahun itu sudah menjadi terumbu karang dan menjadi spot nelayan khususnya pancing. Kalau terumbu karang diangkat, hancurlah mata pencaharian nelayan. Kita akan pertanyakan dan menyesalkan jika memang benar terjadi pengangkatan kapal tenggelam di Tanjung Labun kawasan Pulau Mempunai ini. Bayangkan jika 11 kapal tenggelam yang telah menjadi terumbu karang ini diangkat semuanya, habis sudah terumbu karang Bangka Selatan yang menjadi spot mata pencarian nelayan kita,” sesal Joni
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan melalui Kabid Perikanan, Abdul Haq ketika dikonfirmasi mengaku pihaknya belum mendapat informasi ada pengangkatan bangkai kapal di Bangka Selatan.
Menurutnya, sejak tahun 2016 lalu tidak ada pengangkatan bangkai kapal di wilayah laut Bangka Selatan. Selain itu, Kementerian Kelautan Perikanan RI belum mencabut moratorium pengangkatan BMKT (Bangkai Muatan Kapal Tenggelam) di seluruh perairan Indonesia.
“Saya belum tahu jika ada pengangkatan bangkai kapal, namun dari Kementerian Kelautan Perikanan masih belum mencabut moratorium pengangkatan BMKT” jelasnya kemarin.
Demikian halnya pernyataan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan Kabupaten Bangka Selatan, Anshori ketika dikonfirmasi menyebutkan pihaknya Bidang Perhubungan tidak ada menerima tembusan surat mengenai rencana pengangkatan bangkai kapal di perairan Bangka Selatan.
“Setau saya tidak ada surat tembusan tentang pengangkatan kapal,” jawabnya singkat.
Pihak kepolisian pun menjawab sama. Kepala Satuan Polisi Perairan Polres Bangka Selatan (Kasat Polair Polres Basel), AKP Edison Toha menegaskan tidak tau tentang adanya pengangkatan besi kapal. Saat dikonfirmasi via ponselnya tentang dugaan pencurian besi kapal di perairan Desa Sebagin juga wilayah Bangka Selatan, ia menyebutkan tidak ada besi yang dicuri.
Selain itu, kata Edison, tidak ada juga pihak yang merasa kehilangan besi atau kapal melapor kepada pihaknya. Meski begitu, ia meyakini jika pun ada pengangkatan besi dari bawah laut, menurutnya dimungkinkan persoalan tersebut telah diambil alih oleh Direktorat Polisi Perairan Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung (Ditpolair Polda Babel) karena wilayahnya bulan di perairan Bangka Selatan.
Untuk mengingat kembali, pada edisi 6 April 2017 diberitakan tentang keberadaan sebuah bangkai kapal perang milik tentara Jepang yang tenggelam di perairan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 1945 silam, terancam punah.
Pasalnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Dirjen Hubla Kemenhub RI) telah menerbitkan perizinan kepada PT. Karya Benda Karya untuk mengambil dan mengangkat bangkai kapal perang bernama Ashigara yang menjadi aset bawah laut Provinsi Bangka Belitung itu, dengan modus pembersihan alur pelayaran di Muntok.
Para penyelam yang tergabung dalam Emas Diving Club Bangka Belitung (EDC Babel), menolak keras rencana pengangkatan bangkai kapal perang tersebut. EDC juga mempertanyakan penerbitan izin oleh Dirjen Hubla Kemenhub itu. Sebab, pengangkatan bangkai kapal dengan dalih pembersihan alur pelayaran diduga hanya kedok belaka dan akan mengakibatkan rusaknya aset Babel yang bernilai sejarah dan pariwisata.
Ketua Harian EDC Babel, Syarli Nopriansyah mengutarakan, pihaknya mengetahui rencana pengambilan bangkai kapal itu setelah mendapat data tentang keluarnya Surat Keputusan (SK) Direktorat Kelautan Kemenhub RI, terkait dengan kegiatan pembersihan alur pelayaran di perairan Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Di dalam surat tersebut disebutkan pengangkatan, pembersihan bangkai kapal yang tidak termanfaatkan.
“Yang kami sayangkan dan kami khawatirkan terkait dengan adanya salah satu spot yang selama ini menjadi pantauan dan kami jaga selama ini. Karena di tahun 2009 Emas Diving Club itu sudah melaksanakan pendataan. Menurut tim yang ke sana bersama Balai Arkeologi, terkait dengan spot tersebut, situs itu mau kita jadikan cadangan spot untuk Bangka Belitung, karena nilai sejarahnya sangat tinggi terkait dengan tenggelamnya bangkai Kapal Ashigara,” kata Syarli, Rabu (5/4/2017) di Sungailiat.
Diceritakannya, Kapal Ashigara tenggelam saat peperangan dengan tentara sekutu pada 8 Juni 1945. Sehingga sejak tahun 1945, kapal itu sudah ada di perairan Muntok. Untuk itu, pihaknya menganggap aneh jika sekarang ini keberadaan bangkai kapal ini dianggap sebagai sesuatu yang menjadi permasalahan bagi jalur pelayaran.
“Karena selama ini tidak ada masalah dalam jalur tersebut. Yang kami khawatirkan ini adalah upaya pengambilan dari situs tersebut, bukan murni untuk pelayaran,” sebutnya.
Terkait dengan hal ini, dikarenakan peraturan perundang-undangan untuk wewenang kelautan ada di tingkat pemerintah provinsi, EDC Babel mengharapkan ada upaya dari Pemerintah Provinsi Bangka Belitung untuk mencegah jangan sampai pengangkatan bangkai kapal sebagai aset bawah laut daerah itu terjadi. Terlebih, pihaknya mendapat informasi dari masyarakat, bahwa kegiatan pengangkatan sudah dilakukan.
“SK pengangkatan itu tahun 2016. Kalau memang ini dilaksanakan, kita akan kehilangan aset yang sangat berharga. Dan saya yakin bahwa Indonesia akan mendapat protes dari Jepang atau dunia internasional, karena ini adalah situs sejarah. Karena dari Badan Arkeologi Jambi dan Emas Diving Club melakukan survey terkait untuk menjaga cagar budaya,” jelasnya.
Diterangkan Syarli lagi, Kapal Ashigara apabila melihat di situs internet telah terpampang informasi bahwa bangkai kapal tersebut ada di Kabupaten Bangka Barat, sehingga menjadi tugas bersama untuk menjaganya. Ia mengakui memang banyak dari masyarakat Bangka Belitung tidak mengetahui hal ini. Namun apabila nanti tiba-tiba hilang dan diangkat dari posisinya, maka Babel akan sangat rugi kehilangan aset berharga.
Syarli sempat menunjukkan dokumen mengenai SK pengangkatan dan pembersihan jalur pelayaran Muntok yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan melaui Dirjen Perhubungan Laut kepada wartawan. Dalam SK Nomor : KL.303/4/15/DN-16 disebutkan tentang Izin Kegiatan Salvage Kerangka Kapal kepada PT. Karya Benda Raya. SK tersebut dikeluarkan berdasarkan surat permohonan PT. Karya Benda Raya Nomor 006/KBR-SPK/X/2016 tanggal 3 Oktober 2016.
Perusahaan di Kota Bitung tersebut akan melakukan pengerjaan di Perairan Muntok, Bangka Barat untuk kegiatan salvage berupa pembersihan alur pelayaran melalui pengangkatan dan penyingkiran kerangka kapal (wreck removal) yang tenggelam dan terbengkalai.
Informasi lainnya, bangkai kapal perang ini sejak tahun 2002 sudah mulai dilirik banyak pihak, termasuk para kolektor barang antik asal Singapura dan Eropa. Pihak Jepang pun sudah datang memantau keberadaan bangkai kapal perang bersejarah yang kini berada di dasar laut Perairan Tanjung Ular, Muntok itu.
Terlebih, didapat kabar, kapal perang jenis penjelajah yang tenggelam karena ditembak kapal selam pasukan Sekutu ini bermuatan harta karun hingga emas, sehingga sudah sejak lama menjadi buruan para kolektor benda antik.
Dan dari data yang didapat, Kapal Ashigara yang merupakan kapal kelas Myoko Angkatan Laut Kekaisaran Jepang ini, hingga kini diketahui masih diteliti oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan. (raw/1)

Related posts