1 Muharram, Semangat Hijrah Islam Kaffah

  • Whatsapp

Oleh : Desti Ritdamaya, M.Pd
Guru SMKN 1 Sungailiat

Tahun ini, kaum Muslim memperingati 1 Muharram 1441 H tepat tanggal 1 September 2019. 1 Muharram memang memiliki makna mendalam bagi kaum Muslim. Pada tanggal tersebut terdapat momentum bersejarah dalam sirah (sejarah) Rasulullah SAW mendakwahkan mabda (ideologi) Islam. Yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dan kaum muslim dari Mekkah ke Madinah.
Di Mekkah kehidupan jahiliah mendominasi kehidupan masyarakat saat itu. Kemusyrikan (penyembahan berhala), riba, perzinahan, minum khamar, kezaliman pembesar Quraisy terhadap kaum lemah, kecurangan, pembunuhan dan sebagainya sudah menjadi kebiasaan. Ketika Rasulullah SAW berdakwah mengemban ideologi Islam yang menentang semua kehidupan jahiliah, maka cemoohan, ancaman, pemboikotan, siksaan psikis dan fisik bahkan sampai berakibat kematian dialami Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Kehidupan jahiliah ini di back up dan dipertahankan secara sistemik oleh pemilik kekuasaan terutama pembesar kafir Quraisy saat itu. Pembesar Quraisy paham benar apabila masyarakat Mekkah menerima dakwah Islam, maka jabatan, kehormatan, sumber ekonomi (kekayaan), kedudukan yang mereka peroleh dari kehidupan jahiliah ini akan terganggu bahkan sirna. Mereka tidak ingin kehilangan itu semua. Walaupun mereka tahu bahwa yang didakwahkan Rasulullah SAW adalah haq (kebenaran), tetapi mereka mati-matian menolak dakwah tersebut.
Dakwah Islam di Mekkah tidak berkembang. Syari’at Islam dalam dakwah Rasulullah SAW tidak bisa diterapkan secara kaffah (menyeluruh). Selama 13 tahun Rasulullah SAW dan kaum Muslim bersabar dan ikhlas menghadapi itu semua. Akhirnya setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, serta bai’at Aqabah 1 dan 2 dari kaum Anshar terhadap Rasulullah SAW, Allah SWT menurunkan wahyu untuk hijrah ke Madinah. Jadi hijrah ini memang semata-mata memenuhi perintah Allah SWT untuk melanjutkan dan mengembangkan dakwah Islam.
Di Madinah, kaum Anshar menerima dengan hangat dakwah Rasulullah SAW. Mereka begitu mencintai Rasululullah SAW dan risalah Islam. Bahkan mereka memperlakukan kaum Muhajirin selayaknya saudara sendiri. Kehidupan di Madinah diterapkan syari’at Islam secara kaffah baik yang mengatur masalah hamblumminallah (ibadah), diri sendiri (makan, minuman dan berpakaian) maupun hablumminannas (ekonomi, pergaulan, sosial, hukum, pemerintahan, sanksi dan dan sebagainya). Di Madinah pemikiran, perasaan dan aturan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan masyarakatnya bersumber dari Islam. Di Madinah inilah terwujud pertama kalinya masyarakat Islam dan negara Islam. Rasulullah SAW sendiri berperan sebagai pemimpin masyarakat sekaligus kepala negaranya.
Masyarakat dan negara Islam di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai inisiasi bersatunya kaum muslim selanjutnya. Yaitu menjadi ummatan wahidah (umat yang satu) dalam satu naungan kekhilafahan Islam. Kekhilafahan Islam ini pernah hadir selama 13 abad lamanya dan kekuasaannya melingkupi 2/3 dunia. Walaupun berbeda-beda dalam suku, kulit, bahasa dan bangsa, kaum Muslim merasakan memiliki entitas tubuh yang sama, yang solid dan tidak tercerai berai. Kekhilafahan ini mampu menorehkan sejarah kegemilangan peradaban Islam. Selain itu telah memberikan kontribusi besar dalam peradaban luhur umat manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jadi, hijrah menandai terjadinya perubahan suatu masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam yang memiliki peradaban luhur karena diliputi nilai-nilai dan hukum-hukum Allah SWT. Dengan hijrah kekufuran sirna digantikan dengan keimanan. Kejahiliahan lenyap digantikan dengan sistem kehidupan Islam. Kezaliman musnah digantikan dengan kemuliaan dan keagungan syari’at Islam. Bahkan hijrah menjadi starting point peradaban Islam menuju puncak kejayaan.
Begitu pentingnya momentum hijrah inilah menjadi alasan kuat Khalifah Umar Bin Khattab ra dan para shahabat lainnya, meletakkannya sebagai awal penanggalan hijrah. Kaum muslim seharusnya memandang 1 Muharram tidak hanya sekadar seremonial tahunan saja. Tetapi, mengambil pelajaran berharga dari misi dakwah ideologi Islam Rasulullah SAW. Bahwa dakwah ideologi Islam mencakup fikrah (pemikiran) Islam dan thariqah (metode penerapan) Islam. Ideologi Islam tidak cukup hanya diyakini dan diemban oleh individu-individu Muslim, tetapi harus dapat terterapkan secara kaffah oleh negara. Jadi wajib menjadikan ideologi Islam sebagai sistem kehidupan.
Dalam konteks kekinian, semangat Muharram dan hijrah harus dimaknai sebagai upaya perubahan dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kehidupan penuh kejahiliahan menuju sistem Islam. Faktanya sistem kehidupan yang mendominasi berbagai negeri Muslim sekarang adalah sekuler kapitalistik. Kehidupan sekuler menganut pemahaman fashluddin ‘anil hayah (pemisahan agama dari kehidupan). Tampak jelas dalam kehidupan sekarang, agama terutama ideologi Islam hanya dipakai untuk mengatur hamblumminallah dan diri sendiri kaum Muslim. Tetapi untuk aturan hablummminannas tidak dipakai. Artinya, Islam belum diterapkan secara kaffah. Bahkan yang menyedihkan bagi kaum muslim yang ingin menerapkan Islam kaffah disematkan berbagai tudingan jahat seperti ekstrimis, radikalis dan sebagainya.
Akibat kehidupan sekuler kapitalistik, sekarang menjamur berbagai kemaksiatan dan kejahiliahan. Banyak kemiripan antara kondisi masyarakat modern sekarang dengan masyarakat jahiliah pra hijrah, bahkan dalam beberapa kondisi justru lebih parah. Misalnya pelegalan zina dalam bentuk lokalisasi, bahkan negara memfasilitasi pelaku zina berupa pembagian kondom gratis dengan alasan mencegah HIV AIDS. Massifnya kampanye terbuka LGBT dan ketika penggiat moral ingin memasukkan LGBT sebagai tindak pidana malah dianulir oleh negara. Maraknya pembunuhan bayi dari hasil perzinahan baik dalam kandungan (aborsi) maupun setelah dilahirkan. Pembunuhan sadis dengan ragam motif disertai mutilasi menghiasi berita kriminal layar kaca. Pabrik minuman keras (khamar) dilegalkan bahkan menjadi sumber pendapatan negara lewat pajak. Narkoba, pornografi dan pornoaksi meracun pikiran generasi sehingga terjadilah degradasi moral generasi bahkan menimpa pelajar tingkat sekolah dasar. Riba merajalela. Bahkan sekarang riba menjadi penopang utama ekonomi dan negara menjadi salah satu pelaku utamanya. Negara gemar menumpuk utang ribawi yang menjadi beban rakyat hingga tercatat tahun ini utangnya mencapai Rp 5.153 triliun rupiah. Terjadinya konflik antar elit politik untuk mempertahankan kekuasaan bahkan memakan korban dari rakyat sipil, dan lain sebagainya.
Apabila kaum Muslim mencintai Rasulullah SAW dan menjadikan Beliau uswatun hasanah (suri teladan baik), maka tidak boleh dibiarkan sekuler kapitalistik menjadi sistem yang mengatur kehidupan Muslim. Karena bertentangan dengan sistem kehidupan Islam yang diperjuangkan Rasulullah SAW lewat peristiwa hijrah. Selain itu secara sistemik dapat menjauhkan kaum Muslim dari ridha Allah SWT.
Semangat Muharram harus menjadikan kaum Muslim berupaya untuk mengembalikan kembali sistem kehidupan Islam yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan menggiatkan dakwah Islam kaffah menggunakan thariqah (metode) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawabi.(***).

Related posts